TEAM KEPARAT Headline Animator

Minggu, 24 Januari 2010

jalur pendakian gunung sumbing


Gunung bertipe strato ini terletak di kabupaten Wonosobo Jawa Tengah, dengan ketinggian 3371m dpl.Di daerah Wonosobo yang terkenal akan sayurannya kita dapat melihat dengan jelas betapa megahnya dua gunung yang seakan membelah kota ini menjadi dua bagian. Di sebelah selatan kota ini tepatnya Gunung Sumbing berada. Gunung yang berketinggian 3371 M ini selain menjadi bagian penting kota Wonosobo juga menjadi bagian penting dari tujuan para pendaki karena tingginya lebih dari 3000 M dan merupakan puncak kedua tertinggi di Jawa Tengah.

Keadaan medan gunung ini sangat gersang di musim kemarau, ini diakibatkan oleh kondisinya pungungan gunung ini terbuka dan hampir nyaris dipenuhi oleh ilalang. Sumber air juga susah ditemukan kecuali mata air yang terdapat di ketinggian 2200 M, yaitu di sekitar daerah Genus (jalur lama) atau di Kedung (jalur baru) dan bentuknya telah permanen karena mata air ini juga dipakai untuk keperluan ladang pertanian.
Jalur menuju ke puncak setelah ladang pertanian adalah jalur bebatuan. Jalur bebatuan ini dikenal rawan longsor jadi pendaki disarankan berhati-hati melewati jalur ini. Setelah melewati jalur bebatuan ini maka pendaki akan dapat mencapai puncak buntu (3371 M). dari puncak ini pendaki harus mengelilingi jalan setapak untuk dapat turun menuju Kawah Besar Gunung Sumbing. Dari puncak buntu pada pagi hari pendaki dapat melihat megahnya Gunung Sundoro yang terdapat tepat di depan mata dan keindahan Gunung Slamet (3428 M) 110 Km sebelah barat Gunung Sumbing

Pendakian gunung ini bisa dilakukan lewat tiga alternatif rute pendakian yaitu:

Rute

* Cepit Parakan (Pungungan Timur)
* Rute Kalikajar (Pungungan Barat)
* Rute Desa Garung (Pungungan Utara)

Dari ketiga jalur pendakian, jalur melalui Dusun Garung adalah jalur yang paling banyak diminati oleh para pendaki karena jalur ini telah banyak petunjuk dan keamanan medannya lebih terjamin dan juga waktu tempuh perjalanan dengan menggunakan jalur ini merupakan yang tercepat dibanding dengan dua jalur lainnya.

Dari Dusun Garung pendaki dapat memulai pendakian dengan alternatif dua jalur pendakian yaitu jalur lama dan jalur baru. Tidak ada perbedaan yang khusus mengenai kedua jalur ini hanya arah dan sudut pendakiannya saja yang sedikit berbeda. Jika menggunakan jalur lama maka akan terasa sangat berat karena di sekitar (seduplak roto ) atau kilometer kelima pendakian pendaki akan menemukan medan pendakian yang berkemiringan sekitar 70 derajat, sehingga pada saat turun hujan akan sangat berbahaya untuk didaki. Berbeda dengan jalur baru yang terletak di sebelah barat jalur lama, medan pendakian tidak seberat jalur lama hanya ketika menggunakan jalur ini pendaki akan banyak melewati daerah perbukitan kecil sehingga akan terasa lebih lama.

Berikut ini adalah pos-pos pendakian gunung sumbing.

Jalur Lama

* Base camp (Posko pengawasan) (Km I) – 1455 M
* Ladang pertanian (tembakau) (Km II)
* Malim (Km III)
* Genus (Km IV) 2240 M
* Seduplak Roto (Km V)
* Pestan 2437 M
* Pasar Watu (Watu Kotak) 2763 M
* Tanah Putih (KM VI)
* Puncak Buntu 3371 M
* Puncak Kawah (KM VII)

Jalur Baru

* Base Camp (Km I)
* Ladang pertanian (Km II)
* Kedung (Bosweisen) (Km III)
* Gatakan (Km IV) 2240 M (Pos 2)
* Krendegan

Setelah krendegan ini maka jalur kembali menjadi satu (bergabung dengan jalur lama) di daerah pestan 2437 M.

Jalur menuju ke puncak setelah ladang pertanian adalah jalur bebatuan. Jalur bebatuan ini dikenal rawan longsor jadi pendaki disarankan berhati-hati melewati jalur ini. Setelah melewati jalur bebatuan ini maka pendaki akan dapat mencapai puncak buntu (3371 M). dari puncak ini pendaki harus mengelilingi jalan setapak untuk dapat turun menuju Kawah Besar Gunung Sumbing.

Dari puncak buntu pada pagi hari pendaki dapat melihat megahnya Gunung Sundoro yang terdapat tepat di depan mata dan keindahan Gunung Slamet (3428 M) 110 Km sebelah barat Gunung Sumbing.

Waktu perjalanan yang dibutuhkan pendaki untuk dapat mencapai puncak adalah antara 8 sampai 15 jam perjalanan tergantung cuaca dan fisik pendaki. Itupun dengan menggunakan jalur Garung yang termasuk paling cepat diantara jalur lainnya. Apabila pendaki akan mencoba jalur cepit parakan atau jalur kalikajar maka perjalanan menuju puncak bisa memakan waktu satu asmapi dua hari perjalanan karena jalurnya landai dan rambu menuju puncak tidak sebanyak jalur garung.

Selain pandangan yang lepas memandang kesegala arah selama pendakian, gunung ini juga mempunyai kawah yang bisa dituruni. Dasarnya ditumbuhi oleh rumput dan dikelilingi oleh tebing batu. Lokasi ini juga bisa dijadikan tempat bermalam. Cari tempat yang agak jauh dari lobang kawah tempat keluarnya asap belerang.

MOUNTAIN CLIMBING LANE OF SUMBING


Type strato mountain located in Wonosobo regency, Central Java, with 3371m altitude dpl.Di Wonosobo region famous for its vegetables, we can see clearly how the two majestic mountains that seem to divide the city into two parts. South of this city exactly cleft. 3371 M berketinggian mount in addition to being an important part of the town of Wonosobo is also an important part of the purpose of the climbers that are higher than 3000 M and is the second highest peak in Central Java.

Field situation is very barren mountains in the dry season, this condition is caused by this mountain pungungan open and close almost full of weeds. Water sources is also difficult to find unless there is a spring at an elevation of 2200 AD, ie at about the genus (long track) or in Kedung (new line) and has a permanent form for this spring is also used for agriculture. The road to the top after the farm is a rocky path. The route is known rock climbers vulnerable to landslides are advised to be careful through this route. After a rocky road through the climbers will be able to reach the top of a dead end (3371 AD). from this peak climbers must surround the path to go down into the crater of Mount Harelip. From the top of a dead end on the morning of climbers can see the majestic Mount Sundoro located right in front of the eyes and the beauty of Mount Slamet (3428 F) 110 Km west of the Cleft

This mountain climbing can be done through three alternative climbing routes are:

* Route Cepit Parakan (East Pungungan)
* Route Kalikajar (West Pungungan)
* Route Garung Village (North Pungungan)

from the third route, the road through the village streets Garung the most interest to climbers because this line has a lot of security guidance and terrain is much more secure and also travel time travel by using this route is the fastest compared with the other two lines.
From Hamlet Garung climbers can start the climb to the alternative route two long lines and new lines. There are no specific differences regarding the direction of this road and the climb angle is only slightly different. If you use the old line will be very difficult, because in some (seduplak Roto) or five miles to find the climbers climbing climbing berkemiringan area around 70 degrees, so when the rain will be very dangerous to climb. Unlike the new line is just west of the old route, the climb is not as heavy as the field long lines only when using this route many climbers going through the small hills that will be felt much longer.

Here are the posts cleft mountain climbing.

Long lines
* Base camp (Posko supervision) (Km I) - 1455 M
* field of agriculture (tobacco) (Km II)
* Malim (Km III)
* Genus (Km IV) 2240 M
* Seduplak Roto (Km V)
* Pestan 2437 M
* Market Watu (Watu Box) 2763 M
* Tanah Putih (KM VI)
* Peak Sukaye M
* 3371 Crater Peak (KM VII)

New Line
* Base Camp (Km I)
* agricultural fields (Km II)
* Kedung (Bosweisen) (Km III)
* Gatakan (Km IV) 2240 M (Post 2)
* Krendegan


After this krendegan then back into one line (joining the long line) in 2437 AD

pestan path leading to the top after the farm is a rocky path. The route is known rock climbers vulnerable to landslides are advised to be careful through this route. After a rocky road through the climbers will be able to reach the top of a dead end (3371 AD). from this peak climbers must surround the path to go down into the crater of Mount Harelip.

From the top of a dead end on the morning of climbers can see the majestic Mount Sundoro located right in front of the eyes and the beauty of Mount Slamet (3428 F) 110 Km west of cleft.

Travel time required to reach the climbers to the summit is between 8 to 15 hours depending on the weather and physical climbers. Itupun using Garung path that includes most rapidly among the other lines. If the climbers will try to point or point cepit parakan kalikajar the way to the summit can take asmapi two-day journey as a side track and the signs to the summit is not much point Garung.

but the view looked loose kesegala direction during ascent, the mountain also has a crater that could fall. Essentially covered by grass and surrounded by rock cliffs. This location could also be a place to sleep. Looking for a place some distance from the aperture of the crater where the sulfur out of smoke.

[TRIMAN]

Senin, 11 Januari 2010

Jalur Pendakian Gunung Merbabu


Jalur Pendakian

Gunung Merbabu cukup populer sebagai ajang kegiatan pendakian. Medannya tidak terlalu berat namun potensi bahaya yang harus diperhatikan pendaki adalah udara dingin, kabut tebal, hutan yang lebat namun homogen (hutan tumbuhan runjung, yang tidak cukup mendukung sarana bertahan hidup atau survival), serta ketiadaan sumber air. Penghormatan terhadap tradisi warga setempat juga perlu menjadi pertimbangan.
[sunting] Kopeng Thekelan

Dari Jakarta bisa naik kereta api atau bus ke Semarang, Yogya, atau Solo. Dilanjutkan dengan bus jurusan Solo-Semarang turun di kota Salatiga, dilanjutkan dengan bus kecil ke Kopeng. Dari Yogya naik bus ke Magelang, dilanjutkan dengan bus kecil ke Kopeng. Dari kopeng terdapat banyak jalur menuju ke Puncak, namun lebih baik melewati desa tekelan karena terdapat Pos yang dapat memberikan informasi maupun berbagai bantuan yang diperlukan. Pos Tekelan dapat ditempuh melalui bumi perkemahan Umbul Songo.

Di bumi perkemahan Umbul Songo Anda dapat beristirahat menunggu malam tiba, karena pendakian akan lebih baik dilakukan malam hari tiba dipuncak menjelang matahari terbit. Andapun dapat beristirahat di Pos Thekelan yang menyediakan tempat untuk tidur, terutama bila tidak membawa tenda. Dapat juga berkemah di Pos Pending karena di tiga tempat ini kita bisa memperoleh air bersih.

Masyarakat di sekitar Merbabu mayoritas beragama Budha sehingga akan kita temui beberapa Vihara disekitar Kopeng. Penduduk sering melakukan meditasi atau bertapa dan banyak tempat-tempat menuju puncak yang dikeramatkan. Pantangan bagi pendaki untuk tidak buang air di Watu Gubug dan sekitar Kawah. Juga pendaki tidak diperkenankan mengenakan pakaian warna merah dan hijau.

Pada tahun baru jawa 1 suro penduduk melakukan upacara tradisional di kawah Gn. Merbabu. Pada bulan Sapar penduduk Selo (lereng Selatan Merbabu) mengadakan upacara tradisional. Anak-anak wanita di desa tekelan dibiarkan berambut gimbal untuk melindungi diri dan agar memperoleh keselamatan. Perjalanan dari Pos Tekelan yang berada ditengah perkampungan penduduk, dimulai dengan melewati kebun penduduk dan hutan pinus. Dari sini kita dapat menyaksikan pemandangan yang sangat indah ke arah gunung Telomoyo dan Rawa Pening.

Di Pos Pending kita dapat menemukan mata air, juga kita akan menemukan sungai kecil (Kali Sowo). Sebelum mencapai Pos I kita akan melewati Pereng Putih kita harus berhati-hati karena sangat terjal. Kemudian kita melewati sungai kering, dari sini pemandangan sangat indah ke bawah melihat kota Salatiga terutama di malam hari.

Dari Pos I kita akan melewati hutan campuran menuju Pos II, menuju Pos III jalur mulai terbuka dan jalan mulai menanjak curam. Kita mendaki gunung Pertapan, hempasan angin yang kencang sangat terasa, apalagi berada di tempat terbuka. Kita dapat berlindung di Watu Gubug, sebuah batu berlobang yang dapat dimasuki 5 orang. Konon merupakan pintu gerbang menuju kerajaan makhluk ghaib.

Bila ada badai sebaiknya tidak melanjutkan perjalanan karena sangat berbahaya. Mendekati pos empat kita mendaki Gn. Watu tulis jalur agak curam dan banyak pasir maupun kerikil kecil sehingga licin, angin kencang membawa debu dan pasir sehingga harus siap menutup mata bila ada angin kencang. Pos IV yang berada di puncak Gn. Watu Tulis dengan ketinggian mencapai 2.896 mdpl ini, disebut juga Pos Pemancar karena di puncaknya terdapat sebuah Pemancar Radio.

Menuju Pos V jalur menurun, pos ini dikelilingi bukit dan tebing yang indah. Kita dapat turun menuju kawah Condrodimuko. Dan disini terdapat mata air, bedakan antara air minum dan air belerang.

Perjalanan dilanjutkan dengan melewati tanjakan yang sangat terjal serta jurang disisi kiri dan kanannya. Tanjakan ini dinamakan Jembatan Setan. Kemudian kita akan sampai di persimpangan, ke kiri menuju Puncak Syarif (Gunung Pregodalem) dan ke kanan menuju puncak Kenteng Songo ( Gunung Kenteng Songo) yang memanjang.

Dari puncak Kenteng songo kita dapat memandang Gn.Merapi dengan puncaknya yang mengepulkan asap setiap saat, nampak dekat sekali. Ke arah barat tampak Gn.Sumbing dan Sundoro yang kelihatan sangat jelas dan indah, seolah-olah menantang untuk di daki. Lebih dekat lagi tampak Gn.Telomoyo dan Gn.Ungaran. Dari kejauhan ke arah timur tampak Gn.Lawu dengan puncaknya yang memanjang.

Menuju Puncak Kenteng Songo ini jalurnya sangat berbahaya, selain sempit hanya berkisar 1 meter lebarnya dengan sisi kiri kanan jurang bebatuan tanpa pohon, juga angin sangat kencang siap mendorong kita setiap saat. Di puncak ini terdapat batu kenteng / lumpang / berlubang dengan jumlah 9 menurut penglihatan paranormal.

Menuruni gunung Merbabu lewat jalur menuju Selo menjadi pilihan yang menarik. Kita akan melewati padang rumput dan hutan edelweis, juga bukit-bukit berbunga yang sangat indah dan menyenangkan seperti di film India yang sangat menghibur kita sehingga lupa akan segala kelelahan, kedinginan dan rasa lapar. Disepanjang jalan kita dapat menyaksikan Gn.Merapi yang kelihatan sangat dekat dengan puncak yang selalu mengeluarkan Asap.

Kita akan menuruni dan mendaki beberapa gunung kecil yang dilapisi rumput hijau tanpa pepohonan untuk berlindung dari hempasan angin. Disepanjang jalur tidak terdapat mata air dan pos peristirahatan. Kabut dan badai sering muncul dengan tiba-tiba, sehingga sangat berbahaya untuk mendirikan tenda.

Jalur menuju Selo ini sangat banyak dan tidak ada rambu penunjuk jalan, sehingga sangat membingungkan pendaki. Banyak jalur yang sering dilalui penduduk untuk mencari rumput dipuncak gunung, sehingga pendaki akan sampai diperkampungan penduduk. Sambutan yang sangat ramah dan meriah diberikan oleh penduduk Selo bagi setiap pendaki yang baru saja turun Gn.Merbabu. Apabila Anda tidak bisa berbahasa jawa ucapkan saja terima kasih.

Dari Selo dapat dilanjutkan dengan bus kecil jurusan Boyolali-Magelang, bila ingin ke yogya ambil jurusan Magelang, dan bila hendak ke Semarang atau Solo ambil jurusan Boyolali.
[sunting] Jalur Wekas

Tim Skrekanek yang berjumlah lima orang ( Steve, Sigit, Bowo, Hari, Bayu) pertengahan Maret 2005 melakukan pendakian Gunung Merbabu melalui Jalur Wekas. Untuk menuju ke Desa Wekas kita harus naik mobil Jurusan Kopeng - Magelang turun di Kaponan, yakni sekitar 9 Km dari Kopeng, tepatnya di depan gapura Desa Wekas. Dari Kaponan pendaki berjalan kaki melewati jalanan berbatu sejauh sekitar 3 Km menuju pos Pendakian.

Jalur ini sangat populer dikalangan para Remaja dan Pecinta Alam kota Magelang, karena lebih dekat dan banyak terdapat sumber air, sehingga banyak remaja yang suka berkemah di Pos II terutama di hari libur. Wekas merupakan desa terakhir menuju puncak yang memakan waktu kira-kira 6-7 jam. Jalur wekas merupakan jalur pendek sehingga jarang terdapat lintasan yang datar membentang. Lintasan pos I cukup lebar dengan bebatuan yang mendasarinya. Sepanjang perjalanan akan menemui ladang penduduk khas dataran tinggi yang ditanami Bawang, Kubis, Wortel, dan Tembakau, juga dapat ditemui ternak kelinci yang kotorannya digunakan sebagai pupuk. Rute menuju pos I cukup menanjak dengan waktu tempuh 2 jam.

Pos I merupakan sebuah dataran dengan sebuah balai sebagai tempat peristirahatan. Di sekitar area ini masih banyak terdapat warung dan rumah penduduk. Selepas pos I, perjalanan masih melewati ladang penduduk, kemudian masuk hutan pinus. Waktu tempuh menuju pos II adalah 2 jam, dengan jalur yang terus menanjak curam.

Pos II merupakan sebuah tempat yang terbuka dan datar, yang biasa didirikan hingga beberapa puluhan tenda. Pada hari Sabtu, Minggu dan hari libur Pos II ini banyak digunakan oleh para remaja untuk berkemah. Sehingga pada hari-hari tersebut banyak penduduk yang berdagang makanan. Pada area ini terdapat sumber air yang di salurkan melalui pipa-pipa besar yang ditampung pada sebuah bak.

Dari Pos II terdapat jalur buntu yang menuju ke sebuah sungai yang dijadikan sumber air bagi masyarakat sekitar Wekas hingga desa-desa di sekitarnya. Jalur ini mengikuti aliran pipa air menyusuri tepian jurang yang mengarah ke aliran sungai dibawah kawah. Terdapat dua buah aliran sungai yang sangat curam yang membentuk air terjun yang bertingkat-tingkat, sehingga menjadi suatu pemandangan yang sangat luar biasa dengan latar belakang kumpulan puncak - puncak Gn. Merbabu.

Selepas pos II jalur mulai terbuka hingga bertemu dengan persimpangan jalur Kopeng yang berada di atas pos V (Watu Tulis), jalur Kopeng. Dari persimpangan ini menuju pos Helipad hanya memerlukan waktu tempuh 15 menit. Perjalanan dilanjutkan dengan melewati tanjakan yang sangat terjal serta jurang disisi kiri dan kanannya. Tanjakan ini dinamakan Jembatan Setan. Kemudian kita akan sampai di persimpangan, ke kiri menuju Puncak Syarif (Gunung Pregodalem) dan ke kanan menuju puncak Kenteng Songo ( Gunung Kenteng Songo) yang memanjang.
[sunting] Jalur Kopeng Cunthel

Tim Skrekanek yang berjumlah lima orang (Maulana, Steve, Iwi, Ardy, Sigit) pertengahan September 2004 melakukan pendakian Gunung Merbabu berangkat melalui jalur Kopeng - Cunthel, dan turun mengambil jalur Kopeng Thekelan.

Untuk menuju ke desa Cuntel dapat ditempuh dari kota Salatiga menggunakan mini bus jurusan Salatiga Magelang turun di areal wisata Kopeng, tepatnya di Bumi perkemahan Umbul Songo. Perjalanan dimulai dengan berjalan kaki menyusuri Jalan setapak berbatu yang agak lebar sejauh 2,5 km, di sebelah kiri adalah Bumi Perkemahan Umbul Songo. Setelah melewati Umbul Songo berbelok ke arah kiri, di sebelah kiri adalah hutan pinus setelah berjalan kira-kira 500 meter di sebelah kiri ada jalan setapak ke arah hutan pinus, jalur ini menuju ke desa Thekelan.

Untuk menuju ke Desa Cuntel berjalan terus mengikuti jalan berbatu hingga ujung. Banyak tanda penunjuk arah baik di sekitar desa maupun di jalur pendakian. Di Basecamp Desa Cuntel yang berada di tengah perkampungan ini, pendaki dapat beristirahat dan mengisi persediaan air. Pendaki juga dapat membeli berbagai barang-barang kenangan berupa stiker maupun kaos.

Setelah meninggalkan perkampungan, perjalanan dilanjutkan dengan melintasi perkebunan penduduk. Jalur sudah mulai menanjak mendaki perbukitan yang banyak ditumbuhi pohon pinus. Jalan setapak berupa tanah kering yang berdebu terutama di musim kemarau, sehingga mengganggu mata dan pernafasan. Untuk itu sebaiknya pendaki menggunakan masker pelindung dan kacamata.

Setelah berjalan sekitar 30 menit dengan menyusuri bukit yang berliku-liku pendaki akan sampai di pos Bayangan I. Di tempat ini pendaki dapat berteduh dari sengatan matahari maupun air hujan. Dengan melintasi jalur yang masih serupa yakni menyusuri jalan berdebu yang diselingi dengan pohon-pohon pinus, sekitar 30 menit akan sampai di Pos Bayangan II. Di pos ini juga terdapat banguanan beratap untuk beristirahat.

Dari Pos I hingga pos Pemancar jalur mulai terbuka, di kiri kanan jalur banyak ditumbuhi alang-alang. Sementara itu beberapa pohon pinus masih tumbuh dalam jarak yang berjauhan.

Pos Pemancar atau sering juga di sebut gunung Watu Tulis berada di ketinggian 2.896 mdpl. Di puncaknya terdapat stasiun pemancar relay. Di Pos ini banyak terdapat batu-batu besar sehingga dapat digunakan untuk berlindung dari angin kencang. Namun angin kencang kadang datang dari bawah membawa debu-debu yang beterbangan. Pendakian di siang hari akan terasa sangat panas. Dari lokasi ini pemandangan ke arah bawah sangat indah, tampak di kejauhan Gn.Sumbing dan Gn.Sundoro, tampak Gn.Ungaran di belakang Gn. Telomoyo.

Jalur selanjutnya berupa turunan menuju Pos Helipad, suasana dan pemandangan di sekitar Pos Helipad ini sungguh sangat luar biasa. Di sebelah kanan terbentang Gn. Kukusan yang di puncaknya berwarna putih seperti muntahan belerang yang telah mengering. Di depan mata terbentang kawah yang berwarna keputihan. Di sebelah kanan di dekat kawah terdapat sebuah mata air, pendaki harus dapat membedakan antara air minum dan air belerang.

Perjalanan dilanjutkan dengan melewati tanjakan yang sangat terjal serta jurang disisi kiri dan kanannya. Tanjakan ini dinamakan Jembatan Setan. Kemudian kita akan sampai di persimpangan, ke kiri menuju Puncak Syarif (Gunung Pregodalem) dan ke kanan menuju puncak Kenteng Songo ( Gunung Kenteng Songo) yang memanjang.

Dari puncak Kenteng songo kita dapat memandang Gn.Merapi dengan puncaknya yang mengepulkan asap setiap saat, nampak dekat sekali. Ke arah barat tampak Gn.Sumbing dan Sundoro yang kelihatan sangat jelas dan indah, seolah-olah menantang untuk di daki. Lebih dekat lagi tampak Gn.Telomoyo dan Gn.Ungaran. Dari kejauhan ke arah timur tampak Gn.Lawu dengan puncaknya yang memanjang.

MOUNTAIN CLIMBING LANE OF MERBABU


Jalur Pendakian

Mount Merbabu quite popular as an arena of climbing activities. Area is not too heavy, but the potential hazards to watch out for climbers is cold, thick fog, a dense but homogeneous forest (forest conifers, which are not adequate to support a means of survival or survival), and lack of water resources. Respecting local traditions also need to be taken into account.

Kopeng Thekelan.
From Jakarta to take the train or bus to Semarang, Yogya, or Solo. Followed by the Solo-Semarang bus down in the city of Salatiga, followed by a small bus to Kopeng. From Yogya bus to Magelang, followed by a small bus to Kopeng. From Kopeng there are many routes to the summit, but rather through the village because there tekelan posts that can provide information as well as a variety of assistance needed. Pos Tekelan can be done through the camp Songo Bannerman.

Songo banner at the camp you can rest at night waiting for the climb would be better done at night to arrive before sunrise dipuncak. You can also relax in the Post Thekelan provide a place to sleep, especially when not carrying a tent. Can also camped in Post Pending because in three places, we can obtain clean water.

Merbabu communities around the Buddhist majority, so we will see some monastery near Kopeng. Residents often do meditation or meditation, and many of the places sacred to the top. Taboo for climbers to not waste water in Watu Gubug and around Rabaul. In addition, climbers are not allowed to wear red and green colors.

In the new 1 inhabitants of Java suro traditional ceremony in the crater of Mount. Merbabu. In population Sapar Selo (south slope Merbabu) held a traditional ceremony. Girls in the village tekelan dreadlocked left to protect themselves and to earn salvation. The journey from the post in the middle of the village Tekelan, starting with people through the gardens and pine forests. From here we can see a splendid view of mountains and swamps Telomoyo Dizziness.

Delayed in the post we can find a spring, also we will find a small river (Kali Sowo). Before I got to the post we will pass the White Pereng we must be careful because it is very steep. Then we passed a dry river, the scenery is very beautiful here below to see the town of Salatiga, especially at night.

From my post we will pass into the mixed forest of Post II Post III lines begin to open and start to climb the steep road. We climb the mountain Pertapan, felt the wind waves, especially in the open. We can take refuge in Watu Gubug, a stone with a hole that can be entered 5 people. Said to be the gate to the kingdom of magical creatures.

If the storm should not proceed because it is very dangerous. Approaching the four headings we climb Mt. Watu write a bit steep lines and lots of sand and small pebbles so smooth, strong winds carrying dust and sand that must be prepared to turn a blind eye when there is a strong wind. IV running on top of Mt. Watu Write to the height reached this mdpl 2896, also called the Post because the peak transmitter is a radio transmitter.

V points toward the decline, the post is surrounded by hills and cliffs are beautiful. We can go to the crater Condrodimuko. And here is spring, distinguish between drinking water and sulfur water.

The journey continued with the passage of a very steep slopes and drop the left and right. This hill is called Devil's Bridge. Then we will arrive at the intersection, left onto Peak Sharif (Mount Pregodalem) and to the right toward the top Kenteng Songo (Songo Kenteng Mountain) is elongated.

From the top of Songo Kenteng we can see the top Gn.Merapi smoke all the time, seemed close. Looking to the west and Gn.Sumbing Sundoro looks very clear and beautiful, as if challenging to climb. Closer look Gn.Telomoyo and Gn.Ungaran. From the distance to the east is Gn.Lawu with the elongated peak.

Kenteng Songo to the Top of this very dangerous road, but narrow ranges only 1 meter wide with left and right sides of cliffs with no trees, very strong winds are also ready to push us all the time. At the top there is Kenteng stone / mortar / holes with the number 9 according to a psychic vision.

Merbabu down the mountain through the path to Selo became an attractive option. We will pass through meadows and forests edelweis, is also flowering hills are very beautiful and fun as india is very entertaining movie that we will forget all the tiredness, cold and hungry. Along the way we can see that look very Gn.Merapi close to the top of the always remove smoke.

We're going down and climbing some small mountains covered with green grass with no trees to shelter from the wind waves. Along the way there are no springs and post resort. Fog and storms often appear suddenly, so it is very dangerous to set up a tent.

Selo route is very much with no signs of signs, so it is very confusing climbers. Many who frequently traveled route to seek grass population dipuncak mountain, so climbers going up diperkampungan population. Welcoming and very friendly and festive Selo given by residents for every climber who had just come down Gn.Merbabu. If you do not speak Javanese just say thank you.

From Selo can proceed with a small bus-Magelang Boyolali department, if you want to major in Yogya Magelang, and when he went to Semarang or Solo Boyolali majors take.

Line wekas.
Sikrekanek team total of five people (Steve, Sigit, Bowo, Day, Bayu) mid-March 2005 to climb Mount Merbabu through Wekas Line. Go to our village to get rid of the Department Wekas Kopeng - Magelang down Kaponan, ie, about 9 Km from Kopeng, exactly in front of the village gate Wekas. From Kaponan climbers walked past the rocky road so far about 3 Km to the post Ascent.

The line was very popular among teenagers and Nature Lovers Magelang city, because it is closer and there are many sources of water, so many teenagers who like camping in the Post War II, especially on holidays. Wekas is the last village to the summit which takes approximately 6-7 hours. Wekas Line is a short line so that there is rarely a flat track. I post road wide enough with the underlying rocks. Along the road people will see specific fields planted with upland Onion, Cabbage, Carrots, and tobacco, livestock can also be found rabbit droppings used as fertilizer. The route to the post I just got 2-hours of travel time.

Heading I is a plain with a hall as a resort. In this area there are many shops and houses. After posting my journey was through a field population, then entered the pine forest. Travel time to the post II is 2 hours, with a steep ascent path. Pos II is a place that is open and flat, usually setting up camp a few dozen. On Saturdays, Sundays and public holidays

Pos II is widely used by teenagers for camping. So that in these days many people who trade food. In this area there are water sources in the channel through large pipes are accommodated in a tub.

From the Post II is a dead end that leads to the river which is used as a source of water for communities around Wekas to villages in the vicinity. These lines follow the flow of water pipes in a ravine leading down to the river below the crater. There are two rivers that form the waterfall is very steep terraced, so that a collection of extraordinary background peak - the top of Mt. Merbabu.

After heading II lines begin to open up to meet Kopeng intersection point is above the heading V (Watu Write), Kopeng line. From this crossing to post Croquet requires only 15 minutes travel time. The journey continued with the passage of a very steep slopes and drop the left and right. This hill is called Devil's Bridge. Then we will arrive at the intersection, left onto Peak Sharif (Mount Pregodalem) and to the right toward the top Kenteng Songo (Songo Kenteng Mountain) is elongated.

Line Cunthel.

Kopeng Skrekanek team of five people (Maulana, Steve, iwi, Ardy, Sigit) mid September 2004 to climb Mount Merbabu through Kopeng - Cunthel, and down to take the route Kopeng Thekelan.

To go to the village can be taken from the town of Salatiga Cuntel using mini-buses in Salatiga, Magelang Kopeng tourism to the area, precisely in the Earth's camp Songo Bannerman. The journey begins with a hike along a little gravel path as far as 2.5 km wide, on the left is the Songo Bannerman camping grounds. Songo Bannerman after crossing turn left, on the left is a pine forest after walking about 500 yards on the left is the path to the pine forest, this route to the village Thekelan.

To go to the village following Cuntel continues until the end gravel road. Many good omen navigate around the village and on the route. In Basecamp Cuntel Village is located in the middle of this township, climbers can rest and fill the water supply. Climbers can also purchase various goods in the form of stickers and T-shirt memory.

After leaving the village, followed by a trip across the plantation population. Line began to climb hills are a lot of pine trees. The road is dusty dry soil, especially in the dry season, thus disturbing the eyes and breathing. For that climbers must wear masks and goggles.

After walking about 30 minutes down the hill with winding climbers will reach the post Shadow I. In this place climbers can take shelter from sun or rain. With still on the same path along the dusty streets interspersed with pine trees, about 30 minutes to reach the post Shadow II. In this post-roofed buildings also have to rest.

From my post to post an open relay starting point, on both sides of the lot overgrown with weeds. While some pine trees still grow in the distance.

Pos transmitter or often also called Watu Write a mountain at an altitude of 2896 mdpl. At its peak there were relay stations. In this post there are many large rocks that can be used to shelter from strong winds. But sometimes a strong wind coming from under the dust flying. Climbing in the day will feel very hot. From this location overlook the most beautiful, visible in the distance Gn.Sumbing and Gn.Sundoro, looking Gn.Ungaran behind Mt. Telomoyo.

The next line of the derivative to Post Croquet, atmosphere and scenery surrounding this Post Croquet highly unusual. Located right next to Mt. The ship is at its peak white as sulfur vomit had dried up. Lying in front of a white crater. On the right side near the crater there is a spring, climbers must be able to distinguish between drinking water and sulfur water.

The journey continued with the passage of a very steep slopes and drop the left and right. This hill is called Devil's Bridge. Then we will arrive at the intersection, left onto Peak Sharif (Mount Pregodalem) and to the right toward the top Kenteng Songo (Songo Kenteng Mountain) is elongated.

From the top of Songo Kenteng we can see the top Gn.Merapi smoke all the time, seemed close. Looking to the west and Gn.Sumbing Sundoro looks very clear and beautiful, as if challenging to climb. Closer look Gn.Telomoyo and Gn.Ungaran. From the distance to the east is Gn.Lawu with the elongated peak.

[TRYMAN]

Jumat, 06 November 2009

MY FISH

About Me

visitor

free counters
LEARNING WITH NATURE, THEN YOU WILL KNOW WHO THE REAL YOU

Followers


Masukkan Code ini K1-3E9AC2-A
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com
 

Copyright © 2009 by TEAM KEPARAT SHOWS INDONESIAN TOURISM DESTINATION